Kamis, 12 April 2012

Penghantaran impuls, kepekaan saraf , kerja otot dan tetani


BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang Teori
1.1.1 Sistem Saraf Perifer
System saraf perifer terdiri dari saraf kranial dan saraf spinal yang menghubungkan otak dan medulla spinalis dengan reseptor  dan efektor. Secara fungsional sistem saraf perifer dibagi menjadi dua, yaitu:
1.   Saraf Aferen (sensorik)
 Mentransmisi informasi dari reseptor sensorik ke sistem saraf pusat.
2.   Saraf Eferen (motorik)
Mentransmisi informasi dari sistem saraf pusat ke otot dan
kelenjar. Sistem ini mempunyai dua subdivisi, yaitu:
a.    Divisi Somatik (volunter)
Berkaitan dengan perubahan lingkungan eksternal dan pembentukan respons motorik volunter pada otot rangka.
b.      Divisi Otonom (involunter)
Mengendalikan seluruh respons involunter pada otot polos, otot jantung, dan kelenjar dengan cara mentransmisi impuls saraf melalui dua jalur, yaitu:
(i)      Saraf Simpatis
Berasal dari areal toraks dan lumbal pada medulla spinalis.
(ii)    Saraf Parasimpatis
Berasal dari area otak dan sakral pada medulla spinalis. (Sloane, 2003)


1.1.2        Morfologi Otot Lurik
Otot di dalam tubuh manusia membentuk 50% massa tubuh manusia, kira-kira 40% dari seluruh tubuh terdiri dari otot rangka dan mungkin 10% lainnya berupa otot polos dan otot jantung Fenomena pergerakan ini dapat berupa transport aktif melalui membran, translokasi polimerase DNA sepanjang rantai DNA, dan lain-lain termasuk kontraksi otot. Pada makalah ini, fokus perhatian kita adalah otot lurik.

Otot lurik atau otot rangka adalah sejenis otot yang menempel pada rangka tubuh dan digunakan untuk pergerakan. Otot ini mempunyai pigmen mioglobin dan mendominasi tubuh vertebrata. Otot ini disebut otot lurik karena pada otot ini tampak daerah gelap (miosin) dan terang (aktin) yang berselang-seling. Disebut juga otot rangka, karena melekat di rangka dan juga otot sadar, karena bekerja di bawah kesadaran kita. Kontarksi otot lurik berlangsung cepat bila menerima rangsangan. Setiap sel otot lurik berbentuk silindris panjang berinti banyak , terletak di tepi sel. Bila di lihat dibawah mikroskop akan terlihat garis-garis melintang gelap dan terang berselang seling sehingga member gambaran lurik-lurik pada sel otot. Membrane sel otot disebut sarkolema yang dibungkus endomesium yaitu jaringan otot yang banyak mengandung kolagen, reticulum dan elastin.

1.1.3  Mekanisme Umum Kontraksi Otot (Guyton, 1997)
Tahap-tahap kontraksi otot adalah sebagai berikut :
a.              Pada serat otot, suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf motorik sampai pada ujungnya.
b.             Pada setiap ujung, saraf mensekresi substansi neutransmiter yaitu asetilkolin dalam jumlah sedikit.
c.              Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serat otot untuk membuka saluran bergerbang asetilkolin melalui molekul-molekul protein dalam membran serat otot.
d.             Terbukanya saluran asetilkolin memungkinkan sejumlah besar ion natrium untuk mengalir ke bagian dalam membran serat otot pada titik terminal saraf. Peristiwa ini akan menimbulkan suatu potensial aksi dalam serat otot.
e.              Potensial aksi akan berjalan di sepanjang membran serat otot dalam cara yang sama seperti potensial aksi berjalan di sepanjang membran saraf.
f.                Potensial aksi akan menimbulkan depolarisasi membran serat otot pada tempat dimana potensial aksi menyebabkan retikulum sarkoplasma melepaskan sejumlah besar ion kalsium yang telah disimpan di dalam retikulum ke dalam miofibril.
g.              Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan tarik-menarik antara filamen aktin dan miosin yang menyebabkan kedua filamen tersebut bergerak bersama-sama dan menghasilkan proses kontraksi.
h.             Setelah kurang dari satu detik ion kalsium dipompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma (tempat ion-ion ini disimpan sampai potensial aksi otot yang barn datang lagi). Pengeluaran ion kalsium dari miofibril akan menyebabkan kontraksi otot terhenti.
1.1.4 Mekanisme Molekular Pada Kontraksi Otot
Kontraksi otot merupakan mekanisme pergeseran filamen antara filamen aktin dan filamen miosin.  Pergeseran filamen aktin kedalam filamen miosin disebabkan oleh kekuatan yang dibentuk oleh interaksi jembatan silang dari filamen miosin ke filamen aktin. Filamen aktin terdiri dari tiga komponen protein yaitu aktin, tropomiosin, dan troponin. Troponin terbagi lagi menjadi 3 sub unit yaitu troponin I, troponin T, troponin C. Kepala jembatan silang berikatan dengan ATP kemudian ATP dipecah oleh ATPase menjadi ADP dan fosfat dan terikat pada kepala. Bila kompleks troponin-tropomiosin berikatan dengan ion-ion kalsium, bagian aktif pada filamen aktin menjadi tersingkap, kepala miosin kemudian berikatan dengan filamen aktin. Kepala kemudian menekuk ke arah lengan jembatan silang dengan menarik filamen aktin. Energi yang digunakan untuk menarik filamen aktin adalah molekul ATP yang telah dipecah sebelumnya. Ketika jembatan silang menekuk menyebabkan pelepasan ADP dan ion fosfat yang sebelumnya melekat di kepala. Ditempat pelepasan ADP terikat molekul ATP yang baru. Pelepasan ikatan baru ini menyebabkan terlepasnya kepala dari aktin. Proses akan berlangsung terus sampai filamen aktin menarik membran Z menyentuh ujung akhir filamen miosin atau sampai beban pada otot menjadi terlalu besar untuk tarikan lebih lanjut.
Karakteristik Kontraksi Otot Rangka (Sloane, 2003)
a. Stimulus Ambang
Adalah voltase listrik minimum yang menyebabkan kontraksi serabut otot tunggal.
·           Respons all-or-none serabut otot
Jika stimulasi ambang telah tercapai; maka serabut otot akan merespons secara maksimal atau tidak sama sekali selama kondisi lingkungan serabut tidak berubah.
·        Dengan meningkatkan stimulus sampai melebihi ambang batasnya, tidak akan memperbesar respons serabut otot tunggal.
b. Kedutan Otot
(i)        Jika preparat otot distimulasi, maka setiap serabut otot dalam otot akan mematuhi semua hukum all-or-none tetapi serabut yang berbeda memiliki ambang yang berbeda pula.
(ii)                                Jika derajat voltase stimulus meningkat maka serabut tambahan turut merespons.
(iii)                             Kedutan otot (kontraksi maksimum keseluruhan otot) akan terjadi saat intensitas stimulus cukup untuk seluruh serabut.

1.1.5 Sumber Energi Untuk Kontraksi Otot
Kontraksi otot bergantung  pada energi yang disediakan oleh ATP. Konsentrasi ATP didalam serabut otot kira-kira 4 milimolar. Sumber energi pertama yang digunakan untuk menyusuun kembali ATP adalah substansi kreatin fosfat. Kreatin fosfat memiliki jumlah energi bebas yang sedikit lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh setiap ikatan ATP. Sumber energi penting kedua yang digunakan untuk menyusun kembali kreatin fosfat dan ATP adalah “glikolisis” dari glikogen yang sebelumnya tersimpan dalam sel otot. Makna penting dari mekanisme glikolisis ada dua. Pertama, reaksi glikolisis dapat terjadi bahkan bila tidak ada oksigen, sehingga kontraksi otot dapat tetap dipertahankan untuk berdetik-detik dan kadang sampai lebih dari satu menit. Kedua, kecepatan pembentukan ATP oleh proses glikolisis kira-kira 2,5 kali kecepatan pembentukan ATP. Namun, begitu banyak produk akhir dari glikolisis akan berkumpul dalam sel otot sehingga glikolisis juga kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan kontraksi otot. Sumber energi ketiga sekaligus yang terakhir adalah metabolisme oksidatif. Hal ini berarti mengkombinasikan oksigen dengan produk akhir glikolisis dan berbagai zat makanan sel untuk membebaskan ATP. Sebagian besar energi yang digunakan oleh otot untuk berkontraksi jangka panjang yang berkesinambungan berasal dari sumber ini (metabolisme oksidatif).
1.1.6  Faktor yang mempengaruhi kontraksi otot
1.      Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas myofibril.
2.      Sumasi, berbeda dengan treppe , pada summasi tiap otot berkontaksi dengan kekuatan berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (sumasi unit motor berganda dan sumasi bergelombang)
3.      Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karna pekerjaan itu sendiri.
4.      Tetani adalah peningktan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan kontraksi
1.1.7 Potensial Aksi Saraf
Sinyal saraf dihantarkan melalui potensial aksi yang merupakan perubahan cepat pada potensial membran. Tiap potensial aksi dimulai dengan perubahan mendadak dari potensial negatif istirahat normal menjadi potensial membran positif (depolarisasi) dan kemudian dengan kecepatan yang hampir sama kembali ke potensial negatif (repolarisasi). Untuk menghantarkan sinyal saraf, potensial aksi bergerak di sepanjang serat saraf sampai tiba di ujung saraf.
Potensial aksi merupakan manifestasi elektris antara dalam dan luar membran sel. Perubahan potensial elektris tersebut disebabkan perubahan konsentrasi elektrolit di dalam maupun di luar sel. Transmembran potensial pada akson antara di dalam dan luar sel pada keadaan istirahat adalah -70 mV sampai -90 mV, yang menunjukkan potensial elektris di dalam sel lebih negatif dibandingkan di luar sel. Elektrolit utama yang berperan terhadap perbedaan potensial antara dalam dan luar sel membran eksitabel adalah natrium, kalium, dan chlor.
Pada keadaan istirahat, ion natrium (sodium) jauh lebih banyak di luar daripada di dalam sel. Sebaliknya ion kalium (potassium) jauh lebih banyak di dalam daripada di luar sel. Rangsangan adekuat pada sel eksitabel akan memberi jawaban berupa suatu potensial aksi. Potensial aksi yang terjadi akan mengikuti hukum “all or none” dan akan dirambatkan ke semua arah (propagation), yang dapat direkam dengan osiloskop. Rangsangan yang tidak mencapai nilai ambang/treshold hanya menimbulkan suatu potensial lokal yang tidak akan disebarkan dan mengikuti hukum sumasi.
Rangsangan adekuat atau rangsangan yang mencapai nilai ambang, baik yang besar maupun yang kecil, akan menimbulkan potensial aksi sama besar. Artinya, potensial aksi tidak dapat bertambah besar walaupun rangsangan diperbesar.
Potensial aksi atau disebut impuls dirambatkan sepanjang membran sel. Oleh karena rangsangan yang adekuat maka permeabilitas membran terhadap ion natrium meningkat sehingga masuk ke dalam (influx), oleh karena natrium membawa muatan positif maka di dalam sel menjadi lebih positif dibanding di luar sel. Fase ini disebut depolarisasi. Selanjutnya ion kalium keluar sehingga di luar sel kembali lebih positif dan keadaan ini disebut fase repolarisasi. Membran sel yang sedang mengalami potensial aksi berarti dalam keadaan refrakter, apabila dirangsang tidak akan menghasilkan aksi.
Urutan tahap potensial aksi terdiri dari :
·      Tahap istirahat. Tahap ini adalah tahap potensial membran istirahat sebelum terjadinya potensial aksi. Membran dikatakan menjadi terpolarisasi selama tahap ini karena adanya potensial membran  negatif yang besar.
·      Tahap depolarisasi. Pada tahap ini membran tiba-tiba menjadi permeabel terhadap ion natrium, sehingga banyak ion natrium bermuatan positif mengalir ke dalam akson. Keadaan polarisasi normal sebesar -90 mV akan hilang dan potensial meningkat dengan cepat dalam arah positif (keadaan di dalam sel menjadi lebih positif). Pada serat saraf besar, potensial membran mempengaruhi nilai nol dan menjadi sedikit lebih positif, namun pada serat yang lebih kecil juga banyak neuron sistem saraf pusat, potensial hanya mendekati nilai nol dan tidak melampaui sampai keadaan positif.
·      Tahap repolarisasi. Dalam waktu yang sangat singkat sekali (sekitar satu per beberapa puluh ribu detik) sesudah membran menjadi sangat permeabel terhadap ion natrium, saluran natrium mulai menutup dan saluran kalium mulai terbuka lebih daripada normal. Selanjutnya difusi ion kalium yang berlangsung cepat ke bagian luar akan membentuk kembali potensial membran istirahat negatif yang normal.

1.1.8 Hubungan Antara panjang Otot, Tegangan, dan Kecepatan Kontraksi
Kecepatan Kontraksi Otot berbanding terbalik dengan besar beban pada otot. Pada pemberian beban, kecepatan akan maksimal pada panjang istirahat dan menurun bila otot lebih pendek atau lebih panjang dari lamanya istirahat. Otot melakukan kerja bila suatu otot berkontraksi melawan suatu beban. Ini berarti ada energi yang dipindahkan dari otot ke beban eksternal, sebagai contoh untuk mengangkat suatu obyek yang lebih tinggi atau untuk mengimbangi tahapan pada waktu melakukan gerak. Dalam hubungan matematis, maka kerja ini didefinisikan oleh persamaan berikut :

                                             W  =  F  .  S
                                             W  =  ( m . g )  . S

Keterangan :
       W = Hasil Kerja (Joule)                                m = massa beban (kg)
       F   = Beban yang diterima oleh otot (N)       g  = gaya gravitasi (m/s2)
       S   = Jarak peregangan otot (m)

1.1.9 Kelelahan otot
Kelelahan  otot adalah gejala kesakitan yang dirasakan otot terlalu tegang. Ketika otot diberi stimulus, ia akan berkontraksi dan terjadi ketegangan. Jika stimulus diberikan terus menerus, maka performanya akan semakin menurun, yaitu pada kekuatan otot dan gerakan yang semakin lambat. Kelelahan otot meningkat hampir berbanding langsung dengan kecepatan penurunan glikogen otot. Pada kondisi tubuh terdapat cukup oksigen, kontraksi otot akan berlangsug secara aeobik. Sedangkan pada kondisi tubuh tidak terdapat cukup oksigen, kontraksi otot akan berlangsung secara anaerobik dan menghasilkan asam laktat. Kandungan asam laktat yang tinggi inilah yang akan menimbulkan rasa lelah

1.1.10 Kontraksi After Loaded
After loaded artinya setelah otot berkontraksi akibat rangsangan barulah otot mendapat pembebanan (after stimulated loaded).

1.1.11 Kontraksi Pre Loaded
Kontraksi ini terjadi apabila otot diberi beban terlebih dahulu sebelum dirangsang untuk berkontraksi. Berbeda dengan after loaded, masa laten kontraksi pre loaded relatif lebih cepat sehingga kecepatan pemendekan otot juga menjadi lebih cepat.

1.1.12 Kontraksi Tetani
Bila otot di rangsang ber ulang-ulang, dimana rangsangan berikutnya terjadi sebelum fase relaksasi, maka akan di hasilkan suatu kontraksi maksimum yang dikenal sebagai Tetani.
Ketegangan yan dihasilkan oleh kontraksi serat – serat otot meningkat seiring dengan pergeseran filamen- filamen tipis kedalam lebih jauh akibat siklus jembatn silang. Seiring dengan penigkatan frekuensi potenisal aksi jarak pergeseran filamen  dan ketegangan yang terbentuk semakin menigkat sampai kontraksi tetani maksimum tercapai sebagai respon terhadap sebuah potensial aksi terjadi pengeluaran Ca2+ .

1.1.13 Rangsangan berdasarkan intensitas dan  frekuensi rangsangan
v  Rangsangan subliminal : rangsangan dengan intensitas lebih kecil dari nilai ambang (treshold) yang hanya mengakibatkan terjadinya respon berupa potensial lokal.
v  Rangsangan liminal : rangsangan terkecil yang sudah dapat menimbulkan potensial aksi, oleh karena rangsangan tersebut mencapai nilai ambang.
v  Rangsangan supraliminal : rangsangan yang intensitasnya melebihi liminal, tapi responnya juga menimbulkan potensial aksi yang sama besar dengan potensial aksi akibat rangsangan liminal (mengikuti hukum all or none).
v  Rangsangan submaksimal : rangsangan dengan intensitas lebih rendah dari rangsangan maksimal tapi dapat mengaktifkan hampir semua sel saraf.
v  Rangsangan maksimal : rangsangan terkecil yang dapat mengaktifkan semua serat saraf untuk menimbulkan potensial aksi maksimal.
v  Rangsangan supramaksimal : rangsangan dengan intensitas lebih tinggi dari rangsangan maksimal tetapi kekuatan yang dihasilkan sama dengan rangsangan maksimal.

1.2         Permasalahan

1.      Apakah bedanya antara rangsangan luminal dan nilai ambang?
2.      Apakah perbedaan antara rangsangan maksimal dan supramaksimal, kontraksi maksimal dan supramaksimal?
3.      Bagaimana menerangkan hubungan antara hokum “all or none” dengan peristiwa-peristiwa pada percobaan ini?
4.      Apa bedanya antara tetani dan sumasi?
5.      Bilamana didapatkan kontraksi tetani bergerigi dan tetani lurus?
6.      Apakah yang terjadi bila rangsangan multiple diberikan terus dalam waktu yang lama?

1.3      Tujuan Praktikum

1.      Mengetahui kepekaan saraf perifer dengan berbagai intesitas rangsangan
2.      Mengetahui perbedaan dan pengaruh dari kontraksi  After Loaded dan Pre Loaded
3.      Mengetahui bagaimana terjadinya kontraksi tetani dan sumasi



BAB II
METODE KERJA
2.1       Alat dan Bahan Praktikum
Alat dan Bahan yang diperlukan antara lain :
·         Katak percobaan
·         Jarum Penusuk
·         Papan percobaan
·         Pinset
·         Alat-alat tumpul
·         Benang
·         Larutan ringer
·         Elektroda
·         Sekrup Penyangga
·         Kimograf
·         Kertas Kimograf
·         Beban

2.2 Tata Kerja Praktikum
Dalam melakukan praktikum penghantaran impuls, kepekaan saraf, kerja otot, dan tetani diperlukan dua tahap antara lain :
1. Tahap Persiapan.

a.      Merusak Otak katak dan Medulla Spinalis
Cara kerja :
1) Peganglah katak dengan tangan kiri, sedemikian rupa sehingga jari telunjuk  diletakkan dibagian kepala dan ibu jari dibagian punggung. Lalu tekan jari telunjuk agar kepala katak sedikut menunduk, sehingga terdapat lekukan antara cranium dan columna vertebralis agar sela inerspinalisnya menjadi lebar.
2)  Bagian Perut dan kaki katak jangan dipegang terlalu untuk menghindari agar tubuh katak tidak rusak.
3) Tusukkan jarum penusuk pada lekukan antara cranium & columna vertebralis.
4) Arahkan jarum penusuk pada rongga tengkorak dan gerakkan jarum kesana kemari untuk merusak katak.
5)  Pindahkan arah jarum kearah medulla spinalis. Lalu putar jarum kea rah yang berlainan , untuk merusak medulla spinalis.
6)  Tanda bahwa jarum masuk ke dalam rongga dan medulla spinalis adalah kekejangan dari kedua otot kaki katak.

b.      Membuat sediaan otot Gastrocnemius.
Cara kerja:
1)      Letakkan katak tengkurap pada papan.
2)   Guntinglah kulit tungkai kanan secara melingkar setinggi pergelangan kaki.
3)   Angkat kulit yang telah lepas ke atas dengan pinset.
4)   Pisahkan tendo achiles dari jaringan sekitarnya dengan alat tumpul.
5)   Lalu ikatlah bagian tendo achiles dengan ikatan mati yang kuat.
6)   Potong tendo achiles pada bagian distal dari ikatan benang.
7)   Pasang ikatan benang yang kuat pada tulang fibia, fibula, serta otot-otot yang melekat padanya kira-kira 5 mm dibawah lutut.
8)   Potonglah tulang-tulang beserta oto-otot yang telah diikat tersebut dibawah ikatan benang.
9)   Kembalikan kulit tadi ke bawah sehingga menutupi kembali otot gastrocnemius untuk melindunginya agar tidak kering.
10) Basahi sediaan ini setiap kali, dengan larutan Ringer agar tidak kering.

c.       Membuat sediaan saraf Ischaidicus.
Cara kerja :
1) Letakkan katak terlungkup, lalu guntinglah kulit memanjang pada bagian paha belakang kanan, sehingga ototnya terbuka.
2)  Carilah Saraf Ischiadicus, dengan memisahkan otot-otot pada daerah paha dengan alat-alat tumpul. Hati-hati jangan sampai merusak pembuluh darah yang berjalan bersama-sama saraf tersebut.
3)  Buatlah simpu longgar pada saraf Ischiadicus, kemudian saraf diantara otot-otot.

d.      Mempersiapkan sediaan saraf otot untuk percobaan selanjutnya.
Cara kerja :
1) Letakkan katak terlungkup pada papan katak.
2) Fiksir kaki kanan, dengan lutut pada tepi bawah papan, sehingga
     Sehingga nantinya otot gastrocnemius dapat tergantung bebas.
3) Fiksir ketiga kaki yang lain paha kanan dalam posisi tegak lurus untuk memudahkan pemasangan electrode.
4) Hubungkan tali pada ujung tendo Achiles dengan penulis.
5)  Atur posisi penulis, tanda rangsang dan tanda waktu sehingga ujung dari ketiganya pada posisi vertikal.

2.    Tahap Pelaksanaan.

a.         Kepekaan saraf perifer
Cara kerja:
1). Siapkan preparat katak untuk sediaan saraf otot.
2). Tahan penulis otot dengan menggunakan sekrup penyangga.
3). Berikan rangsangan tunggal dengan intensitas rangsangan yang minimal.
4). Seterusnya beri rangsangan tunggal berturut-turut dengan
     Interval 30 detik, dengan tmenambah intensitas rangsangan.
5). Kemudian drum diputar ± 0,5 cm, carilah rangsangan dengan kontraksi sub liminal, liminal, supraliminal, submaksimal, maksimal, dan supramaksimal.

b.      Kontraksi After Loaded pada otot katak
Cara Kerja:
   1). Atur sekrup penyangga sehingga ujung sekrup menyangga
        penulis, dan garis dasar (base line) penulis tidak berubah.
        Dengan demikian, panjang otot tidak berubah oleh beban
        Meskipun tempat beban diisi beban.
   2). Rangsanglah dengan rangsangan tunggal yang maksimal
         (dengan voltage yang diperoleh pada percobaan a, dan
         voltage yang dicapai ini dinaikkan sedikit.
   3). Putar kimograf ± 0,75 cm setiap kali memberi rangsangan.
   4). Beri otot katak istirahat selama ± 20 detik antara rangsangan yang satu dengan yang lain.
   5). Beri beban 10 gram, putar kimograf dan rangsanglah lagi.
6). Ulangi tindakan no.5 dengan setiap kali menambah beban sebesar 10 gram hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi.

c.       Kontraksi Pre-Loaded pada otot katak.
Cara kerja :
1). Ambil semua beban yang dipasang pada percobaan.
2). Longgarkan sekrup penyangga yang menyangga penulis
     sehingga kini otot katak secara langsung menahan beban.
3). Atur letak penulis sehingga posisinya horizontal.
4). Rangsanglah dengan rangsangan tunggal yang maksimal
     (dengan voltage yang dipasang pada percobaan A).
5). Putar kimograf ±0,75 cm, beri beban 10 gram, putar lagi kimograf ±0,75 cm kembalikan penulis ke posisi horizontal.,
      putar lagi kimograf ±0,75 cm, dan berilah rangsangan.
6). Ulangi tindakan no.5 setiap kali menambah beban 10 gram, hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi.

d.      Kontraksi tetani
Cara kerja:
1). Siapkan sediaan saraf otot katak.
2). Atur pemasangan electrode perangsang dan tindakan lain
     seperti pada percobaan kepekaan saraf perifer.
3). Tentukan besarnya rangsangan maksimal ( dengan voltage yang diperoleh pada percobaan A).
4). Lakukan rangsangan berulang (multiple) dengan frekuensi rendah 3-5 detik. Beri istirahat ± 60 detik sebelum rangsangan berikutnya.
5). Seterusnya lakukan rangsangan berkali-kali dengan frekuensi makin tinggi, sehingga didapatkan kontraksi tetani lurus. Jangan lupa memberi istrirahat sebelum memberi rangsangan.















BAB III
HASIL PRAKTIKUM
Tabel Hasil Percobaan Kepekaan Saraf Perifer
Rangsangan (volt)
Kontraksi  (cm)
1
0
2
0
3
0
4
0
5
0
8
0
10
0.8
13
1
15
1.8
18
1.9
20
2.2
23
2.5
24
2.5
25
2.5



Tabel Hasil Percobaan Kontraksi After loaded dan Pre loaded
Kontraksi  After Load
Kontraksi Pre load
Beban
(g)
Kontraksi
(cm)
Beban
(g)
Kontraksi
(cm)
10 g
1.8
10 g
3.3
20 g
0.5
20 g
3.1
30 g
-
30 g
2.3


40 g
1.9


50 g
1.2


60 g
0.4


70 g
-

d
e
 


a
                                                                                                        
b
c
f
 



Kerja otot =beban x pemendekan otot
W        = F x S
            = m . g . S
Keterangan :   W         = Usaha / kerja otot (joule)
                        m         = Beban (kg)
                        g          = Percepatan gravitasi (10 m/s2)
                        S          = Pemendekan otot (m) dalam perhitungan dilambangkan “b

Rumus untuk menghitung kontraksi:

           
Keterangan :    a = garis yang tercetak pada kertas milimeter (m)
                        b = Pemendekan otot (m)
                        c = Jarak sekrup ke penulis = 20 cm = 20.10-2 m
                        e = Jarak otot ke sekrup = 2cm = 2.10-2 m

Perhitungan Kontraksi After Loaded
a)      b = 0,018 x 0,02
                  0,2
     = 1.8 x 10-3 m
W = f x s
    = m x g x s
     = 0.01 x 10 x 1.8 x 10-3 = 0.18 x 10-3 =18. 10-5 J
b)      b = 0,005 x 0,02
                  0,2
     = 5.10-4 m
W = f x s
    = m x g x s
     = 0,02 x 10 x 5.10-4 = 0,2 x 5.10-4 = 10-4 J
Perhitungan Kontraksi Pre Loaded
a)      b = 0,033 x 0,02
                  0,2
     = 3.3 x 10-3 m
W = f x s
    = m x g x s
     = 0,01 x 10 x 3.3.10-3 = 3.3 x 10-4 J
b)      b = 0,031 x 0,02
                  0,2
     = 3.1 x 10-3 m
W = f x s
    = m x g x s
     = 0,02 x 10 x 3.1 x 10-3  = 6.2 x 10-4 J
c)      b = 0,023 x 0,02
                  0,2
     = 2.3 x 10-3 m
W = f x s
    = m x g x s
     = 0,03 x 10 x 2.3x10-3 = 6.9 x 10-4 J
d)     b = 0,019 x 0,02
                  0,2
     = 1,9.10-3 m
W = f x s
    = m x g x s
     = 0,04 x 10 x 1,9.10-3 = 7.6 x 10-4 J
e)      b = 0,012 x 0,02
                  0,2
     = 1.2x10-3 m
W = f x s
    = m x g x s
     = 0,05 x 10 x 1.2x10-3 =0. 6 x 10-4 J
f)       d = 0,004 x 0,02
                  0,2
     = 4.10-4 m
W = f x s
    = m x g x s
     = 0,06 x 10 x 4.10-3 = 2.4 x 10-4 J
Grafik Perbandingan After Load dan Pre Load

                       







Kontraksi Tetani / Sumasi
Frek. Rangsangan (kali/det)
Tetani (+/-)
Sumasi (+/-)
1x/det
-
-
2x/det
-
+
3x/det
-
+
4x/det
-
+
5x/det
-
+
10x/det
+ Bergerigi

25x/det
+ lurus















BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Diskusi Hasil Praktikum
4.1.1 Kepekaan Saraf Perifer
Besarnya rangsangan yang diberikan pada saraf ischiadicus mempengaruhi kontraksi pada otot gastrocnemius. Otot memiliki stimulus ambang yaitu voltase listrik minimum yang menyebabkan otot berkontraksi. Jika stimulus tidak mencapai ambang batasnya maka otot tidak akan memberikan respon. Pada praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan bahwa :

a)      Rangsangan subliminal adalah rangsangan yang diberikan tetapi belum ada satu motor unit yang bereaksi terhadap rangsangan tersebut dalam bentuk potensial aksi. Dalam praktikum kami, besar rangsangan subliminalnya adalah < 10 volt. Dimana besar kontraksinya 0. Ini menunjukkan bahwa katak yang kami uji cobakan belum mengalami potensial aksi sehingga belum ada rangsangan yang mengalir.
b)      Rangsangan liminal adalah rangsangan yang diberikan dan mulai terjadi reaksi dari satu motor unit yang paling peka atau dalam kata lain terjadi kontraksi pertama kali. Dalam praktikum kami besar rangsangan liminalnya adalah 10 volt dengan besar kontraksi 0,8 cm. Ini adalah saat pertama kali katak memberikan respon kepada rangsangan yang kami berikan, yang menandakan bahwa satu saraf motorik unit pada katak itu telah berkontraksi.
c)       Rangsangan supraliminal adalah rangsangan yang menyebabkan terjadinya kontraksi yang lebih besar daripada liminal. Dalam praktikum kami besar rangsangan supraliminalnya adalah 13 volt dengan kontraksi 1 cm. pada katak yang kami uji cobakan, setelah satu unit saraf motorik katak tersebut berkontraksi, kemudian kami memberikan rangsangan berikutnya saraf-saraf motorik yang lain juga berkontraksi sehingga hasil kontraksinya pada kertas kimograf mengalami kenaikan.
d)      Rangsangan submaksimal adalah rangsangan yang diberikan sehingga terjadi kontraksi yang besarnya mendekati nilai maksimalnya. Dari hasil pratikum kami, didapatkan rangsangan sebesar 20 volt dengan kontraksi 2,2 cm.
e)       Rangsangan maksimal adalah rangsangan yang mengakibatkan semua motor unit memberikan reaksi dan menghasilkan kontraksi paling tinggi. Dari hasil pratikum kami besar rangsangannya adalah 23 volt dengan kontraksi 2,5 cm.
f)       Rangsangan supramaksimal adalah rangsangan yang lebih besar dari rangsangan maksimal tetapi kontraksinya sama dengan atau kurang dari rangsangan maksimal. Dalam praktikum kami rangsangan supramaksimal besar rangsangan nya pada 24 volt dengan kontraksi 2,5 cm (sama dengan maksimal) dan pada 25 volt dengan kontraksi 2,5 cm (kurang dari kontraksi yang dihasilkan pada rangsangan maksimal).
 Sebuah otot akan berkontraksi sangat cepat bila ia berkontraksi tanpa melawan beban. Tetapi bila diberi beban, kecepatan kontraksi akan menurun secara progresif seiring dengan penambahan beban. Bila beban meningkat sampai sama dengan kekuatan maksimum yang dapat dilakukan otot tersebut, maka kecepatan kontraksi menjadi nol dan tidak terjadi kontraksi sama sekali walaupun terjadi aktivasi serat otot. Penurunan kecepatan dengan beban ini disebabkan oleh kenyataan bahwa beban pada otot yang berkontraksi adalah kekuatan berlawanan arah yang melawan kekuatan kontraksi akibat kontraksi otot.
4.1.2        Kontraksi ‘AFTER LOADED’ Otot katak
Dalam percobaan ini, digunakan tumpuan pada sekrup yang bertujuan agar penambahan beban tidak menyebabkan pertambahan panjang otot sebelum kerja dilakukan.
            Setelah katak diberi rangsangan (maksimal) dan diberi beban sebesar 10 gram otot mampu menahan beban dengan panjang kontraksi 1.8 cm . Ketika diberi beban 20 gram dihasilkan panjang kontraksi 0,5 cm dan ketika beban mencapai 30 gram otot tidak mampu lagi menghasilkan kontraksi.
            Ketika beban diberikan, kontraksi akan menurun secara progresif seiring penambahan beban. Ketika beban 30 gram diberikan otot tidak mampu menimbulkan kontraksi karena telah mencapai kekuatan maksimum yang dapat dilakukan oleh otot, walaupun terjadi aktivasi serabut otot. Beban pada otot yang berkontraksi adalah kekuatan berlawanan arah yang melawan kekuatan kontraksi akibat kontraksi otot.



4.1.3 Kontraksi ‘PRE LOADED’ Otot katak

Dalam percobaan ini, tumpuan pada sekrup dilonggarkan, sehingga tiap pembebanan menyebabkan panjang otot bertambah sebelum kerja dilakukan.
Kontraksi  Preload merupakan kontraksi yang terjadi dengan menggunakan beban sebelum otot kontraksi atau setelah otot berelaksasi. Hal ini dilakukan dengan cara melonggarkan sekrup penyangga sehingga musculus gastroenemius secara langsung menahan beban.
Otot yang terlebih dahulu diberi beban sebelum menerima rangsangan ternyata jauh lebih kuat dibanding otot yang diberi rangsangan terlebih dahulu baru diberikan beban. Hal ini terlihat pada hasil percobaan yang menunjukkan bahwa otot mampu menahan beban 10 sampai 60 gram. Ketika otot diberi beban sebesar 70 gram otot sudah tidak mampu menimbulkan kontraksi.
 Pada keadaan pre loaded otot mampu menahan beban yang lebih besar karena sebelumnya otot sudah di beri beban terlebih dahulu, sehingga otot dapat menyesuaikan dengan beban yang telah diberikan. Dengan demikian ketika otot di beri rangsangan otot, maka otot dapat berkontraksi lebih besar. Sedangkan pada after loaded otot terlebih dahulu berkontraksi sebelum diberi beban, sehingga otot tidak dapat menyesuaikan dengan berat beban yang diberikan. Dan hal tersebut berpengaruh pada kekuatan kontraksi otot.

4.1.4 KONTRAKSI SUMASI
      Kontraksi Sumasi berarti penjumlahan kedutan otot untuk memperkuat dan menyelenggarakan pergerakan otot. Pada umumnya, sumasi terjadi melalui dua cara yaitu: dengan meningkatkan jumlah motor unit yang berkontraksi secara serentak (sumasi spatial )  dan dengan meningkatkan kecepatan kontraksi tiap unit motorik (sumasi temporal)
Pada percobaan kontraksi sumasi dan tetani, kontraksi didapatkan dengan meningkatkan frekuensi rangsangan secara terus menerus selama 3-5 detik.
Dari hasil praktikum kontraksi sumasi kelompok kami, sumasi terakhir yaitu pada frekuensi rangsangan 2x/detik sampai 5x/detik. Pada kertas kimograf kami grafik yang timbul bentuknya naik turun dan jaraknya merapat. Ini disebakan karena otot melakukan kontraksi dan relaksasi, pada saat naik otot mengalami kontraksi sedangkan pada saat turun otot mengalami relaksasi.
4.1.5 KONTRAKSI TETANI
            Kontraksi tetani adalah kontraksi yang timbul dari penjumlahan kontraksi yang berulang-ulang sehingga otot tidak sempat relaksasi dan bila dirangsang pada frekuensi besar secara progresif, maka setiap serabut mempunyai resistensi yang berbeda-beda dan menyebabkan bersatunya kontraksi.
Pada saat reaksi rangsangan mencapai 10x/detik, otot katak mengalami tetani bergerigi. Hal ini karena awal relaksasi otot katak berkontraksi akibat diberi rangsangan multipel. Yang menyebabkan relaksasi tidak berlangsung sempurna.
 Saat frekuensi rangsangan mencapai 25x/detik dan seterusnya otot katak mengalami tetani lurus. Dimana, pada frekuensi yang sedikit lebih tinggi, kekuatan kontraksi akan mencapai tingkat maksimumnya sehingga tambahan peningkatan apapun pada frekuensi diatas titik ini tidak akan memberi efek peningkatan daya kontraksi lebih lanjut. Hal ini dikarenakan terdapat cukup ion kalsium yang dipertahankan dalam sarkoplasma otot, bahkan diantara potensial aksi, sehingga terjadi keadaan kontraksi penuh yang berlangsung terus menerus tanpa memungkinkan adanya relaksasi apapun diantara potensial aksi.
4.2       Diskusi Jawaban Pertanyaan
1.      Apakah bedanya antara rangsangan luminal dan nilai ambang?

Rangsangan luminal adalah rangsangan terkecil yang dapat menimbulkan pontensial aksi pada kontraksi otot, sedangkan nilai ambang adalah nilai terkecil yang memungkinkan dapat menimbulkan potensial aksi. ( Ganong: hal 52)

2.      Apakah perbedaan antara rangsangan maksimal dan supramaksimal, kontraksi maksimal dan supramaksimal?

Rangsangan maksimal adalah rangsangan yang besar, sehingga dapat mengaktifkan semua serabut saraf sehingga kontraksi yang terjadi sudah maksimal.
Rangsangan supramakasimal adalah rangsangan yang lebih besar dari rangsangan maksimal, tetapi kontraksi yang terjadi tidak dapat lebih besar lagi karena kontraksi pada rangasanan maksimal sudah mengaktifkan semua serabut saraf yang ada.
Kontraksi maksimal adalah kontraksi otot yang paling besar atau paling tinggi nilainya.
Kontraksi supramaksimal adalah kontraksi yang memiliki besar yang sama dengan kontraksi yang maksimal. Hal ini disebabkan karena semua saraf telah diaktifkan, sehingga tidak dapat memiliki besaran yang lebih lagi.

3.      Bagaimana menerangkan hubungan antara hukum “all or none” dengan peristiwa pada percobaan ini?

Hukum “all or none” adalah dimana ketika otot dirangsang maksimal maka keseluruhan saraf akan langsung aktif sehingga akan berkontraksi langsung seluruhnya. Pada otot rangka tidak terjadi hukum ini, hal ini dibuktikan dengan rangsangan liminal sehingga rangsangan maksimal yang menunjukkan angka berbeda-beda. Hukum ini hanya dapat bekerja pada otot polos dan otot jantung saja.

4.      Apakah bedanya antara Tetani dan Sumasi?
Tetani adalah suatu kontraksi otot yang timbul akibat rangsangan yang berulang ulang, dimana rangsangan  berikutnya terjadi sebelum fase relaksasi selesai .Sumasi merupakan penjumlahan kontraksi kedutan untuk dapat meningkatkan intensitas seluruh kontraksi otot. (Guyton & Hall 9:102)
5.      Bilamana didapatkan kontraksi tetani bergerigi dan tetani lurus?

·         Tetani bergerigi = terjadi dengan cara mengubah interval rangsangan (waktu istirahat antara rangsangan 1 dan 2 diperpendek sehingga rangsangan ke -2 tepat saat kontraksi 1 akan relaksasi) akibatnya kontraksi 1 dan 2 bersatu menjadi satu kontraksi yang lebih besar.
·         Tetani lurus=  terjadi karena kontraksi ke-2 dan seterusnya terjadi saat kontraksi sebelumnya belum mengalami fase relaksasi.

6.      Apakah yang terjadi bila rangsangan multiple diberikan terus dalam waktu yang  lama?
Keadaan tersebut menyebabkan fatigue atau kelelahan mungkin akibat dari ketidak mampuan proses kontraksi dan metabolis serat-serat otot untuk terus memberi hasil kerja yang sama. (Guyton & Hall, ed.9 : 103) Hal ini akan menyebabkan otot katak mengalami kontraksi secara beruntun.